Selasa, 11 Maret 2008

OH.....KABUPATEN PANIAI..........! KENAPA ENGKAU TIDAK MEMBANGUN PLTMH SAJA...? SUMBERDAYA AIRMU LUAR BIASA BESARNYA.....!!!!

PERSIAPAN
Perjalanan yg dimulai dengan menggunakan pesawat Twin Otter milik Avia Star pada tanggal 4 Maret 2008 dari Timika Papua menuju Paniai Propinsi Papua. Penumpang naik pukul 13.30 WIT yang berasal dari berbagai rumpun, baik rumpun malenesia, melayu dan maupun bule..wah semuanya bercampur aduk.Ya.....beda-beda tipis dengan adukan semenlah...yaoiiii....Selain itu, ada juga penumpang yang membawa babi, membawa ayam...dan ada yang membawa amis dari ikan yang akan di jual di Paniai.Oh.....memang nikmatnya.....Inilah perjalanan ke pedalaman Papua yang penuh resiko (Bagaimana tidak, tiket yang resmi seperti tiket garuda atau trigana aja, tidak ada. Cuma kuitasi aja coy. Konon asuransi, juga tidak jelas. Jadi kalo jatuh, nama-namanya penumpang yang naik, pasti tidak ada).

MULAI PETUALANGAN

Mula-mula, kesan pertama saat menaiki anak tangga pesawat twin otter, sudah muncul keraguan namun adanya tugas yang diemban maka keraguan tersebut dibuang jauh-jauh. Bila tidak, pasti tidak jadi berangkat.Ha.............Ha.

Benar saja, saat pesawat akan take off, awan gelap didepan seolah-olah tidak mau bergerak dari tempatnya sehingga pilot harus menerobos kegelapan tersebut dengan segala daya. Usaha itu memang tidak saja mudah namun penuh perjuangan dengan pesawat menembus awan yang diikuti oleh hujan yang begitu lebat. Air hujan yang menerpa pesawat bagaikan linggis yang menerjang pesawat, menjadikan suasana semakin mencekam. Sebagian penumpang, ada yang tertunduk dengan raut wajah yang memelas dan ada juga yang mulut komat kamit (kepedasan kale...e). Sedangkan Pilot dan co pilot bergantian melihat monitor GPS didepannya. Sedangkan, penumpang yang dekat dengan kokpit, terus melihat kearah monitor GPS yang ada.

Beberapa waktu berlalu, tampak ada secercah harapan dimana cahaya sinar matahari sudah kelihatan, namun pikiran masih penasaran. Untuk menjawab itu, dicoba melihat ke kiri pesawat dan tampaklah begitu dekatnya punggung bukit dengan pesawat. Oh.....my God! Dari situ muncul beberapa pikiran yang menyelimuti para penumpang. Bagaimana kita bisa menembus kegelapan tadi ya? Wah, bagaimana kalo tadi kita nabrak gunung ya? Semua pertanyaan itu muncul sesudah penumpang mendarat di lapangan terbang Enarotali. Ho.....Hoi.

PERJALAN DARI ENAROTALI KE WAHGETE

Perjalanan dimulai dari tempat penginapan yang menurut informasi dimana hanya 2-3 penginapan yang layak (layaknya bagaimana komandan???...) di kota kabupaten ini. Jangan mengharapakan penginapan seperti di kota-kota besar. Ini cuma pemberitahuan aje...Satu lagi perlu diketahui untuk persiapan, wajib membawa jaket yang tebal karena daerah ini diingin skale.. dan merupakan salah satu daerah yang terletak diwilayah pegunungan tengah Papua.

Daerah ini sangat indah skalee...dimana daerah ini memiliki beberapa danau (Danau Tigi dan Paniai). Kedua danau ini saling berdampingan. Berarti banyak sekali air disini. Selain itu, sungainya deras skale.... Wah...luar...biasa dan bisa membinasakan juga. Hi........Hi.

Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat dimana danau-danau dengan sungai-sungainya, belum pernah kering tuh...! Kondisi ini cocok sekali karena populasi manusianya juga masih sangat sedikit dan tak ada industri bossku.....! Namun, bila potensi alam yang besar (misalnya: air) tidak dimanfaatkan, ya...tidak baik juga kaleee.Ya...mudah-mudahan benarlah.

Kembali keperjalan saya. Dalam perjalanan, saya menerawang, kenapa tidak memanfaatkan sumber daya air yang besar itu untuk menggerakan turbin sehingga bisa menghasilkan listrik? Tidak usahlah yang besar-besar, seperti 1 -100 Mwatt. Cukuplah 20 kwatt dengan lokasi tersebar dimana-mana. Hasil penerawangan saya menunjukan jika ada listrik di kota ini, ada kemungkinan konsumsi bahan bakar besin/solar semakin sedikit. Sepengamatan saya, konsumsi terbesar selain untuk kendaraan, konsumsi bahan bakar untuk menggerakan generator sangat besar. 

Selain itu, daerah ini sangat tergantung dengan pasokan dari Kabupaten Nabire. Jangan berpikiran jalan yang dilalui seperti Puncak di Jawa Barat. Mulus...seperti penduduknya (sorryy)! Yang pasti...tidaklah yao...........i! Nah...kalo banjir...bagaimana? Wah.....bisa-bisa, paniai gelap gulita. Ha.....Ha. 

Satu lagi yang diperlu diketahui, bensin atau solar disini bukan Rp.6.000,- . Yang pasti belasan ribu dan bisa-bisa mencapai pulahan ribu kalo dibeli dipengecer. Serukan....(Benar juga ya...Pantesan orang dari pedalaman Papua (kebanyakan) akan balas dendam bila ke kota-kota besar di Indonesia, baik Jayapura, Timika, Makassar, Surabaya atau Jakarta. Balas dendamnya, ya...beli apa ajalah....!Sekali menyelam minum air. (Tapi jangan lupa, airnya harus mateng Kakak, kalo tidak perut bisa sakit atau pica). 
Saya menyaran kepada pemerintah kabupaten Paniai, propinsi Papua untuk segera membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di wilayah ini. Besar harapan, bila adanya listrik ini akan memacu berkembangnya kota ini.Ya...minimal, diwaktu malam menjadi terang menderang.

Kecamatan Wahgete.

Perjalan saya sebentar lagi akan sampai di Wahgete, namun rombongan berhenti sejenak untuk melihat pemandangan dan sekalian foto-foto (masak kalah pula dengan para model-model.Ha...Ha). Ya...mejeng sebentarlah, skaligus menghilangkan penat. Dari tempat kami berhenti ini, dari kejauhan tampak danau Wahgete (tidak seluas Danau Toba lah). Nah...memang indah. Dari tanya jawab ke beberapa pihak, mereka sampaikan dimana permukaan air danau sudah turun jauh. Menurut penuturan mereka dimana permukaan Danau dulunya masih satu meter dari badan jalan. Nah...saat ini, sudah jauh dari permukaan jalan. Apa ada pengaruh perubahan iklim? Apakah ada pengaruh Pertambangan PT Freeport di wilayah ini? Ini yang perlu dicermati para pemimpin di sini. Kalo tidak, lama kelamaan danau ini menjadi suatu cerita aja. Perlu diketahui, industri yang memanfaatkan air dari danau-danau disini sama sekali belum ada namun daerah ini berbatas dengan daerah pertamabangan PT Freeport. Namun, agar tidak menjadi bola liar, selayaknya dilakukan penelitian yang mendalam. Kali-kali ditemukan masalahanya. Kayak....negarawan aje...!Ha.......Ha.

Berangkat dari tempat peristirahatan, kami memulai memasuki kecamatan wahgete. Lokasi pertama yang kami masuki adalah PUSKESMAS Wahgete. Disini saya terkejut, dimana dokter yang bertugas disitu adalah dokter PTT dari alumni USU dan orang batak lagi (Tigabalata-Kab.Simalungun). Kawan ini sudah bertugas selama kurang lebih 3 tahun dilokasi ini. Dia sering menangani keluhan masyarakat, baik melahirkan maupun ISPA,dll. Namun, resiko yang dihadapi sangat besar terutama bagi masyarakat yang belum mampu untuk memahami tugas seorang dokter.

Selain itu, kondisi pasien saat dibawa ke puskesmas, sudah sulit diobat sehingga sering dirujuk ke rumah sakit kabupaten. Ya...maklumlah, dipuskesmas ini peralatan medis sangat terbatas skale...! Selain itu, dokter hanya satu orang dan harus melakukan tugas keliling kepedalaman untuk memberikan penyuluhan dan pengobatan ke pelosok kampung yang notabene terletak dipunggung-punggu bukit. Capek kalilah....! 

Dari pembicaraan dengan kawan itu, diharapkan adanya tambahan dokter dan para medis lainnya serta peralatan medis,dll. Banyak kalipun yang tak ada. Pantasan! Banyak kali yang mati disini tanpa ada pemberitahuan, baik penyakit yang menyebabkan kematian maupun kapan kematianya,dll. Ya...kek mana lagi. Alat komunikasi tak ada. Sesudah itu...kemana aja uang OTSUS. Ha..........Ha.Pusing....

Selepas dari PUSKESMAS, kami diajak untuk melihat lapangan terbang yang sedang dibangun. Rencananya, lapangan terbang ini akan didarati oleh fokker 27. Ya...mudah-mudah cepat selesailah. Kami hanya singgah disini hanya 15 menit karena tidak ada petugas yang dapat dimintakan informasinya. Sudah kemalaman kale...

Selepas itu, kamipun kembali ke kota Paniai....Enarotali (Pusat Pendidikan di Papua saat Masa Belanda)

Tidak ada komentar: