
Anggapan bahwa sampah adalah hal menjijikan, merusak keindahan kota dan membahayakan kesehatan telah membuat masyarakat menjauhi dan tidak mau mengelolanya dengan bijaksana. Tanpa disadari, kecenderungan untuk tidak peduli akan sampah justru membuat semakin tingginya timbunan sampah. Padahal mengolah sampah dapat membawa keuntungan, bukan hanya dalam hal menjaga kebersihan, namun juga menjadi tambahan pemasukan bagi keluarga.
Mengenal sampah
Sebelum mengolahnya, kita perlu mengenali sampah itu sendiri. Sampah terdiri dari sampah organik, yang sering disebut sampah basah, dan sampah Non Organik atau sampah kering. Sampah basah adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti daun-daunan, sampah dapur, dll. Sampah jenis ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami dan karenanya dapat diolah menjadi kompos. Sampah jenis ini dapat diolah menjadi kompos berbentuk padat dan cair.
Sebaliknya, sampah kering, seperti, plastik, kaleng, kaca, dll, tidak dapat terdegradasi secara alami. Agar dapat dimanfaatkan kembali, diperlukan teknologi khusus untuk mengelola sampah non organik. Secara praktis, kita dapat menjual kembali sampah-sampah kering kepada perusahaan yang khusus mengolah limbah non-organik seperti kertas, plastik, kaca, dan lainnya.
Mengolah sampah menjadi kompos
Salah satu terobosan sederhana yang dilakukan dalam mengolah sampah adalah membuat kompos. Saat ini telah dikembangkan teknologi pemroses sampah dengan mengembangbiakan mikroba penghancur sampah (aktivator). Dengan menggunakan aktivator tersebut, proses penghancuran sampah yang dulunya memakan waktu 6 bulan, sekarang menjadi hanya 3 minggu saja.
Membuat kompos tidaklah sulit dan dapat dilakukan sendiri di rumah. Cukup dengan menyediakan dua buah tempat sampah yang berbeda warna untuk memisahkan sampah organik dari sampah non-organik, dan bak plastik atau drum bekas untuk menjadi wadah kompos.
Pada bagian dasar dari wadah (bak plastik atau drum bekas) dibuat lubang kecil untuk mengeluarkan cairan yang dihasilkan dari proses penguraian sampah. Untuk menjaga kelembaban, bagian atas wadah dapat ditutup dengan karung goni atau anyaman bambu. Sebaiknya wadah diletakkan di atas tanah atau paving block, agar kelebihan air dapat merembes ke bawah. Penting untuk dijaga agar wadah tidak terkena air hujan.
Cara lain, ada yang menggunakan komposter (wadah khusus pembuat kompos) dimana sampah dimasukan dalam ke komposter yang terbuat dari plastik yang dibagian bahwahnya ada keran untuk tempat mengambilan lindi (cairan kompos hasil penguraian sampah).
Adapun peralatan yang dibutuhkan untuk membuat kompos adalah sekop, cangkul garpu, ember, drum air, pisau, lembaran pelastik untuk penutup wadah, dan termometer. Setelah wadah dan peralatan yang dibutuhkan telah siap, proses membuat kompos adalah sebagai berikut.
n Siapkan sampah organik rumah tangga (sisa makanan, potongan sayuran, kulit buah, sisa ikan dan daging). Sebaiknya, sampah organik ini dicacah hingga berukuran kecil.
n Masukan sampah ke dalam wadah, campurkan dengan penggembur atau bio activator, dan aduk hingga merata. Bioactivator adalah mikroba jenis tertentu yang dapat mempercepat proses penghancuran sampah. Bioactivator dapat diperoleh dari toko-toko yang menyediakan perlengkapan pertanian.
n Masukkan cacahan tersebut kedalam wadah kompos / komposter yang telah diberi keran atau dilubangi dasarnya.
n Bila wadah / komposter belum penuh dengan sampah, masukan tambahan sampah dan semprotkan bioaktivator. Setiap menambahkan sampah organik baru lakukan penyemprotan kembali dengan Bioaktivator secukupnya. Bila wadah sudah penuh, tutuplah dengan rapat.
n Diamkan selama 7 s/d 14 hari untuk membiarkan proses penghancuran sampah berlangsung.
n Setelah didiamkan, kompos dikeluarkan dari wadah pembuat kompos kemudian dikeringkan dengan cara dijemur atau dianginkan. Segera setelah kering, kompos dapat digunakan atau dikemas untuk dijual.
n Air lindi sampah, atau kompos cair hasil penghancuran sampah, dapat diambil dengan membuka keran atau lubang kecil. Cairan ini dapat menjadi pupuk organik cair dengan menambahkan ¼ liter larutan bio aktivator untuk setiap 1 liter air lindi sampah, kemudian dimasukkan kedalam botol yang ditutup rapat selama 7 hari. Setelah selesai, pupuk organik cair dapat langsung digunakan dengan takaran 1 liter pupuk cair dilarutkan dengan 50 liter air.
Kunci keberhasilan pembuatan kompos adalah terletak pada bagaimana kita dapat mengendalikan suhu, kelembaban dan udara, agar mikroba dapat memperoleh lingkungan yang optimal untuk hidup dan berkembang biak.
Dalam skala lebih besar, pembuatan kompos dapat dijadikan usaha kecil menengah yang dilakukan secara kolektif. Contohnya di pemukiman pada penduduk, industri pembuatna kompos dapat diserahkan kepada pengurus RW atau Kelurahan, bahkan kepada badan tertentu yang ditunjuk sebagai pengelola. Setiap rumah tangga tetap harus melakukan pemisahan sampahnya. Dengan demikian, sampah tidak lagi menumpuk atau dibuang semuanya ke Tempat Pembuan Akhir (TPA) yang berpotensi menimbulkan pencemaran, penyakit, pendangkalan sungai, dan sebagainya.
http://eip.easternindonesia.org/index.php/green-kdp.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar