Kamis, 17 Januari 2008

KONDISI MASYARAKAT DIPEDALAMAN...

Banyak hal yang sudah dibuat oleh pemerintah, masyarakat, NGO, Donor, dll dalam mengentaskan kemiskinan dari muka bumi ini. Namun keingin itu sangat sulit untuk direalisasikan karena demikianlah adanya (bukan berarti pasrah..neh). Sama halnya dengan jari dimana ada yang pendek, ada yang gemuk dan ada panjang sehingga dapat dikatakan semua mempunyai fungsi masing-masing sehingga disebut keluarga jari-jari yang berjumlah 5 maupun lebih dan kurang. Namun, apa hubungannya jari-jari dengan kemiskinan? Secara langsung tidak namun melalui kondisi jari-jari tersebut, sedikit banyak dapat memberikan korelasi dengan kondisi masyarakat dimana ada yang kaya, sedang dan miskin.

Kemiskinan dan kemapanan hidup secara ekonomi, juga demikian adanya karena kemiskinan (ekonomi) menjadi satu bagian di kehidupan manusia dimuka bumi. Boleh dikata, bila tidak ada ketertarikan untuk saling membutuhkan antara manusia maka tidak akan ada transaksi. Bila demikian maka tidak ada jual beli...dan selanjut...dan selanjutnya....

Dalam rangka pengentasan kemiskinan, sudah mulai dicoba hal-hal yang dapat mengurai kemiskian tersebut. Salah satunya dengan pemanfaatan PLTMH di pedalam, khususnya didaerah/kabupaten yang terpencil dan sangat tidak efisien dalam hal biaya untuk menyalurkan listrik PLN dan sejuta alasan lainnya...

Masyarakat yang tinggal di pedalaman, dianggap mempunyai keterbelakangan, baik keterbelakangan kehidupan ekonomi yang secara langsung, keterbelakangan akses informasi dan modal. Apakah kondisi ini demikian adanya? Secara umum dapat dikatakan ya namun sebagian lagi mencoba untuk melakukan terobosan melalui pendekatan terhadap pusat-pusat kekuasaan. Namun, dari kesemua itu, sedikit yang berhasil dan akibatnya, salah satunya: harga komoditas yang dihasilkan oleh masyarakat sangat tidak kompetitif dan cenderung dihargai oleh masyarakat pedagang/perkotaan rendah. Yang kesemuanya itu bermuara kepada ketidak mampuan mereka untuk membeli teknologi yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh mereka.

APAKAH LISTRIK BISA SECARA LANGSUNG MENGENTASKAN KEMISKINAN?

Kemudian, apakah dengan adanya listrik yg tersalurkan kepedalaman maka secara langsung dapat mengentaskan kemiskinan? Wah.. kalau itu tidak bisa dikatakan bahwa masyarakat pedesaan dapat menjadi sejahtera secara otomatis. Itu bisa kita lihat masyarakat di perkotaan dimana masyarakatnya sangat mudah untuk mengakses listrik namun apakah semuanya langsung menjadi berada? Ternyata tidak kan! Ha........Ha. Banyak faktor yang mempengaruhi sehingga mereka tetap miskin... dan miskin.....! 

Nah...untuk memberikan secercah solusi,  diharapkan listrik yang ada dapat memberikan nilai tambahan terhadap pendapatan keluarga masyarakat, khususnya di perdesaan. Untuk menjawab tantang tersebut, di beberapa daerah, masyarakatnya sudah mendapat edukasi (keren kan bahasannya? ha...ha) seputar pemanfaatan listrik untuk menggerakkan teknologi produksi, seperti pelatihan penggunaan mesin jahit, cara membuat kue, penggilingan padi-kopi,dll. 

Lalu....dalam mengelola potensi yang ada tersebut, maka diperlukan adanya suatu model pengorganisasian yang dibangun oleh masyarakat sendiri atau dengan kata lain, dibuat, disusun dan disepakati oleh masyarakat.Hal ini penting karena kedepannya, produk yang dihasilkan oleh masyarakat dengan memanfaatkan energi listrik yang ada akan mendapat tantangan yang tidak ringan. Berdasarkan itu, maka mekanisme dan struktur dalam manajemen/pengelolaan harus disusun. Ya....bahasa kerennya...MANAGEMENT berbasis masyarakat...? (Apa pula tuh...)  

Tidak ada komentar: